Revolusi Teknologi Industri 4.0 Era Globalisasi


Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Arus globalisasi sudah tidak terbendung lagi untuk masuk ke berbagai pelosok dunia. Disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Munculnya teknologi generasi keempat bagi para pemilik usaha untuk memajukan teknologi bagi perusahaannya. Teknologi 4.0 ini tentu saja akan semakin lincah dan canggih. Seperti perkembangannya sekarang, teknologi bukanlah suatu hal yang besar memangsa yang lebih kecil, namun kini teknologi adalah yang lebih cepat yang akan memakan yang lambat. Oleh karena itu, perusahaan harus peka terhadap perkembangan teknologi industrinya agar tak haus termakan oleh zaman.

Perkembangan teknologi harus diikuti dengan perkembangan sumber daya manusia yang handal. Hal ini karena industry 4.0 tentu saja akan menggeserkan peran manusia dan hewan oleh kemunculan mesin. Mesin yang diciptakan inipun tentu saja memiliki kemampuan yang lebih dari pekerja yang dilakukan secara manual. Maka dari itu jika perusahaan memanfaatkan teknologi ini, maka akan sangat membantu dalam memproses maupun menghasilkan barang menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Jika dengan tenaga manusia suatu perusahaan hanya dapat menghasilkan ribuan barang, jika kita ibaratkan dengan mesin dapat menciptakan jutaan barang dengan waktu yang sama. Tentu saja daya saing yang tinggi akan memicu setiap pengusaha untuk mengapakan teknolgi industry menjadi lebih maju.

Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalkan saja industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis. Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari.

Referensi : Revolusi Industri 4.0

Posting Komentar

0 Komentar